Pages

Saturday, November 24, 2012

USAHA AYAM BROILER DENGAN PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica less) DALAM AIR MINUM



BAB 1 PENDAHULUAN

1.1              Latar belakang

Perkembangan usaha dunia peternakan sudah semakin nyata dan digemari oleh masyarakat, keadaan ini didukung dengan peningkatan permintaan produksi peternakan, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, tingginya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi pertumbuhan  dan kesehatan tubuh manusia. Jumlah permintaan yang semakin tinggi, memberikan peluang besar bagi para peternak untuk mengembangkan usaha guna memenuhi kebutuhan yang meningkat dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.
Ayam broiler mempunyai kemampuan produksi daging yang sangat cepat jika dibandingkan dengan unggas penghasil daging yang lain. Keberhasilan usaha ayam broiler ditentukan tiga faktor, diantaranya pakan, manajemen, dan bibit. Kesalahan dari segi manajemen pemeliharaan akan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit yang akan berakibat produksi yang dihasilkan tidak maksimal. Oleh sebab itu, bagi produsen diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia sebagai pimpinan unit produksi untuk memanfaatkan segala serta mengaplikasikan peternakan secara terpadu.
Salah satu faktor pendukung keberhasilan pemeliharaan ayam broiler adalah kesehatan ternak, dimana pada umumnya untuk meningkatkan kesehatan ayam broiler peternak memberikan suplemen dan obat-obatan seperti antibiotik baik melalui pakan maupun air minum, umumnya pengobatan biasanya dilakukan secara masal dibandingkan secara individual. Penggunaan antibiotik selain memiliki efek positif juga dapat berdampak negatif bagi ternak, seperti ternak akan resisten terhadap antibiotik tertentu. Seperti halnya yang terjadi pada peternakan unggas di Nort Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu ternak resisten terhadap Enroflasacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherechia coli (Akhirani N. tanpa tahun)
Selain itu pemberian antibiotik dapat menimbulakan residu terhadap produk yang dihasilkan ternak seperti telur, daging dan susu. Seperti yang dikemukakan oleh Rusiana dan Iswarawanti (2003), sebanyak 85% daging dan 37% hati ayam broiler di jabotabek  mengandung residu antibiotik dari 80 ekor sampel broiler yang diamati. Dimana apabila daging dan hati yang mengandung residu antibiotik terus menerus dikonsumsi oleh manusia maka akan berdampak negative bagi kesehatan, seperti menyebabkan timbulnya kanker (carcinogenic effect), dan  juga dapat berdampak buruk bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya (teratogenic effect). Oleh karena itu perlu dicari alternatif yang lebih aman yaitu seperti pemanfaatan ekstark daun beluntas untuk meningkatkan kesehatan.
Beluntas (pluchea indica less.) merupakan salah satu jenis tanaman Indonesia yang biasa di gunakan sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. Beluntas merupakan tanaman obat asli Indonesia yang daunnya dapat digunakan sebagai obat demam dengan cara direbus seperti teh dan dapat juga digunakan untuk memperkuat urat syaraf dan sebagai obat mandi (sastroamidjojo, 1977). Hal ini disebabkan beluntas mengandung amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), alkaloid, flavonoida, minyak atsiri, asam cholorogenik, natrium, kalium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, vitamin A dan C (Tampubolon,1995; Muhlisah, 1999; asiamaya, 2003)
Beluntas merupakan tanaman obat-obatan yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Beluntas merupakan tanaman herbal yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan, karena mengandung banyak senyawa-senyawa yang berguna bagi tubuh seperti zat asam amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), lemak, kalsium, fosfor, vitamin A dan C merupakan salah satu anti oksidan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh.
Dengan pemanfanaatan ekstrak daun beluntas diharapkan dapat meningkat kesehatan ayam broiler sehingga dapat berpengaruh terhadap performans ayam broiler dan meningkatkan keuntungan.

1.2  Rumusan Masalah
Apakah penggunaan ekstrak daun beluntas pada air minum dapat dapat meningkat daya tahan/kekebalan tubuh sehingga dapat berpengaruh terhadap performans yang maksimal tanpa menimbulkan dampak buruk bagi ternak maupun produk yang dihasilkan.

1.3  Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1.      Meningkatkan keuntungan dengan cara meningkatkan daya tahan/kekebalan tubuh sehingga dapat berpengaruh terhadap performas yang maksimal.
2.      Meningkatkan kreatifitas dan jiwa kewirausahaan.
3.      Meningkatkan pengetahuan mengenai pemeliharaan ayam broiler yang baik.
                                                                        
1.3.2 Manfaat
1.      Penambahan ekstrak daun beluntas pada air minum ini diharapkan dapat meningkatkan daya tahan/kekebalan tubuh sehingga dapat berpengaruh terhadap performas yang maksimal.
2.      Membuat peluang usaha baru dengan penambahan ekstrak daun beluntas pada air minum untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat berpengaruh terhadap performan ayam broiler.



BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Broiler
Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam yang dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh (Rasyaf, 2008).  Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi,efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Murtidjo, 1987). Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Tabel 1. Kebutuhan nutrisi ayam broiler
Zat nutrisi
presentase


Starter
Finisher
Kadar air (max)
14%
14 %
Lemak kasar
18 – 23 %
18 – 22 %
Protein kasar
2.5 -7 %
2 – 7 %
Serat kasar (max)
5 %
5.5 %
Abu
5 – 8%
5 – 8 %
Calcium (Ca)
0.9 – 1.2 %
0.9 – 1.2 %
Phosphor (P)
0.7 – 1 %
0.7 – 1 %
Aflatoxin (max)
50 pbb
50 pbb
L – Lycin (min)
1.1 %
0.9 %
DL – Methionine (min)
0.5 %
0.1 %
Standart SNI Ransum Broiler Starter dan Finisher SNI 01-3930-1995/01-3931-2005

2.2  Beluntas
   Wikipedia (2012), klasifikasi dari beluntas (Pluchea indica (L) Less) adalah sebagai berikut:







Klasifikasi
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkanbiji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
SubKelas         : Asteridae
Ordo                : Asterales
Famili              :
Asteraceae
Genus              :
Pluchea
Spesies            : Plucheaindica (L.) Less.
Tanaman BELUNTAS (Pluchea indica Less.) termasuk familia Asteraceae. Beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk halus, dan berbulu lembut. Pada umumnya beluntas ditanam sebagai tanaman pagar atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa mencapai 3 meter apabila tidak dipangkas, sehingga seringkali ditanam sebagai pagar pekarangan. Beluntas dapat tumbuh di daerah kering pada tanah yang keras dan berbatu, pada daerah dataran rendah hingga dataran tinggi pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut, memerlukan cukup cahaya matahari atau sedikit naungan, dan perbanyakannya dapat dilakukan dengan setek batang pada batang yang cukup tua. Nama daerah: beluntas (Melayu), baluntas, baruntas (Sunda), luntas (Jawa), baluntas (Madura), lamutasa (Makasar), lenabou (Timor), sedangkan nama asing untuk tanaman beluntas adalah Luan Yi (Cina), Phatpai (Vietnam), dan Marsh fleabane (Inggris). Nama simplisia beluntas adalah Plucheacea folium (daun), Plucheacea radix (akar).
Beluntas (pluchea indica less.) merupakan salah satu jenis tanaman Indonesia yang biasa di gunakan sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. Beluntas merupakan tanaman obat asli Indonesia yang daunnya dapat digunakan sebagai obat demam dengan cara direbus seperti teh dan dapat juga digunakan untuk memperkuat urat syaraf dan sebagai obat mandi (sastroamidjojo, 1977). Hal ini disebabkan beluntas mengandung amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), alkaloid, flavonoida, minyak atsiri, asam cholorogenik, natrium, kalium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, vitamin A dan C (Tampubolon,1995; Muhlisah, 1999; asiamaya, 2003)
Beluntas merupakan tanaman obat-obatan yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Beluntas adalah tanaman herbal yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan, karena mengandung banyak senyawa-senyawa yang berguna bagi tubuh seperti zat asam amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), lemak, kalsium, fosfor, vitamin A dan C merupakan salah satu antioksidan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh.
Beluntas (Pluchea indica less) yang berfungsi sebagai bahan aditif pakan karena mengandung beberapa senyawa aktif alkaloid, minyak atsiri dan flavonoid. Khasiat medis tanaman ini dapat juga digunakan sebagai penurun demam (antipiretik), meningkatkan selera makan (stomakik), peluruh keringat (diaforetik) dan penyegar (Dalimartha, 1999). Selain itu, daun beluntas juga bersifat sebagai antimikroba, untuk menghambat pertumbuhan beberapa mikroba patogen seperti Salmonella typhi, Staphylocococcus aureus, Escherichia coli dan Bacillus cereus (Ardiansyah dkk, 2003), dimana keberadaan bakteri ini dalam saluran pencernaan dapat menurunkan produksi telur dan menghambat pertumbuhan ayam pedaging.  Khasiat beluntas dalam mempertahankan produktivitas ternak unggas telah dilaporkan mampu menggantikan zat anti stress. Ayam yang diberikan ekstrak beluntas secara periodik memiliki perfoma, hemoglobin dan leukosit (sel darah putih) yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol yang diberikan anti stress komersial (Setiaji & Sudarman, 2005), dimana sel-sel mendukung sistem kekebalan tubuh.
2.3 Antibiotik
Antibiotik tidak digolongkan ke dalam zat nutrisi, akan tetapi dianggap sebagai suplemen makanan. Antibiotik adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan memiliki daya kerja  bakteriside atau bakteriostatik terhadap mikroorganisme lain. Pada penggunaan dosis rendah, antibiotik diketahui efektif terhadap pengontrolan subklinis dan merangsang pertumbuhan hewan bila diberikan ke dalam ransum atau air minum (Aggorodi, 1995).
Pada umumnya peternak menggunakan antibiotik digunakan untuk meningkatkan performans dan kesehatan ternak. Seperti yang dikemukakan oleh Anggorodi (1995), bahwa pemberian antibiotik dalam ransum dapat menurunkan konsumsi ransum, dapat meningkatkan efisiensi pakan dalam memperoleh pertambahan bobot badan. Pemberian antibiotik dengan tingkat rendah seperti Zinc bacitracin, penicillin, tetracylin, atau kombinasi dari antibiotik tersebut dapat menyembuhkan penyakit tingkat rendah dalam peternakan unggas (Wahju, 1988).
2.4 Mortalitas
Mortalitas akan menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan, karena angka mortalitas yang tinggi menyebabkan kerugian dinilai dari segi ekonomis, penyakit ayam merupakan ancaman bagi perusahaan ternak unggas (Sastroamidjojo, 1970). Menurut Togatotrop et al. (1977) kematian biasanya terjadi pada periode awal (starter), sedangkan pada periode finisher jarang terjadi kecuali akibat serangan pernafasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas antara lain bobot badan, bangsa, tipe ayam, iklim, kebersihan, lingkungan, sanitasi, peralatan kandang, serta suhu lingkungan (Sugiarti et al. 1981).
2.5 Konsumsi Ransum
Konsumsi adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh hewan bila diberikan secara ad libitum (Parakkasi, 1999). Konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada strain, umur, aktivitas serta temperatur lingkungan (Wahju,1992). Menurut Kartasudjana dan Suprijatna (2006), ayam mengkonsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan energinya, sebelum kebutuhan energinya terpenuhi ayam akan terus makan. Jika ayam diberi makan dengan kandungan energi rendah maka ayam akan makan lebih banyak. Konsumsi ransum setiap minggu bertambah sesuai dengan pertambahan bobot badan. Setiap minggunya ayam mengkonsumsi ransum lebih banyak dibandingkan dengan minggu sebelumnya (Fadilah, 2005).
Menurut Rasyaf (1994) konsumsi ransum ayam broiler merupakan cermin dari masuknya sejumlah unsur nutrien ke dalam tubuh ayam. Jumlah yang masuk harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidup pokok. Kartasudjana dan Suprijatna (2006) menambahkan bahwa pertumbuhan pada ayam broiler dimulai dengan perlahan-lahan kemudian berlangsung cepat sampai dicapai pertumbuhan maksimum setelah itu menurun kembali hingga akhirnya terhenti. Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan.
2.6 Konversi Ransum
Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum. Menurut Rasyaf (1992) menyatakan bahwa salah satu ukuran efisiensi adalah dengan membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan (input) dengan hasil yang diperoleh baik itu daging atau telur (output).
Angka konversi ransum yang  kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Anggorodi (1980) menyatakan bahwa nilai konversi ransum dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah suhu lingkungan, laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan, bentuk fisik, dan konsumsi ransum. Nilai konversi ransum berhubungan dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum, karena semakin tinggi konversi ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin tinggi.
2.7 Pertambahan Berat Badan
Pertambahan berat badan diperoleh melalui pengukuran kenaikan berat badan dengan melakukan penimbangan (Tillman et al. 1991) kecepatan pertumbuhan mempunyai variasi yang cukup besar, keadaan ini bergantung pada tipe ayam, jenis kelamin, galur, tata laksana, temperatur lingkungan, tempat ayam tersebut dipelihara serta kualitas dan kuantitas makanan (Anggorodi, 1980). Menurut Scott et al. (1982) menyatakan bahwa dalam keadaan normal ayam jantan tumbuh lebih cepat dari pada ayam betina.
Pada umumnya semua ternak unggas, khususnya ayam broiler termasuk golongan yang memiliki pertumbuhan cepat. Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
2.8 Analisa Usaha
Menurut Wasito dan Rohaemi, (1994) analisa usaha merupakan suatu cara untuk mengetahui perkembangan usaha  tersebut. Tujuan dari analisa usaha adalah merencanakan perluasan usaha baik menambah cabang usaha maupun memperbesar sekala usaha. Untuk melaksanakan analisa usaha, dikenal dengan beberapa istilah yaitu B/C (Beneffer per cost) artinya total pendapatan dibagi total pengeluaran, BEP harga (Break Event Point) yaitu total biaya yang dikeluarkan dibagi produksi ternak (Kg), BEP unit yaitu total biaya dibagi harg jual, penerimaan ialah besarnya uang yang diterima oleh peternak sesuai dengan harga yang berlaku pada saat itu, sedangkan pendapatan adalah hasil keuntungan bersih yang diterima peternak yang merupakan selisih antara penerimaan dan biaya produksi.



BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Usaha ayam broiler dilakukan di kandang Politeknik Negeri Jember selama 1 periode pemeliharaan atau selama umur 35 hari, mulai bulan November sampai  bulan Desember 2012.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
kandang Broiler, sekat, gasolek, lampu, tempat pakan, tempat minum, sprayer, sekop, sapu, alat vaksin, ember, timbangan, penumbuk, alat tulis,chick guard dan feeder tray.
3.2.2. Bahan
DOC Broiler, daun beluntas, formalin, air, gula, Konsentrat BR 1, penumbuk, vaksin, obat-obatan dan sekam.











3.3 Metode
3.3.1  Pembuatan ekstrak daun beluntas
Skema pembuatan ekstrak Daun Beluntas sebagai berikut :








Daun Beluntas
 





pencucian
 
 



1.          














Penumbukan dengan air           hangat 50-60° C
 






penyaringan
 






Ekstrak daun beluntas
 
 










3.4 Program Pemeliharaan
3.4.1 Persiapan Kandang dan Peralatan
Satu minggu sebelum ayam datang kandang dibersihkan dengan air yang dicampur dengan deterjen, kemudian dilakukan pengapuran dan disucihamakan dengan penyemprotan desinfektan. Demikian juga dengan peralatan yang digunakan dibersihkan dengan air dan disucihamakan dengan desinfektan.
3.4.2 Persiapan Brooding
         Setelah persiapan kandang selesai dilakukan, kemudian dilakukan persiapan brooding yaitu pemasangan gassolec, pemasangan chick guard, pemasangan litter (sekam), pemasangan alas koran, dan pemasangan tempat pakan dan tempat minum.
Tabel 2. Kebutuhan Suhu Pemeliharaa
Umur (hari)
Suhu (°C)
Kelembaban (%)
1-3
32

60
4-6
31
7-14
30
Sumber: CP Group (2005)
3.4.3. Penerimaan DOC
Sebelum DOC datang pastikan brooding sudah dalam keadaan menyala agar suhu dalam brooding sudah sesuai dengan kebutuhan DOC yaitu 32-35°C, melakukan penimbangan DOC 10% dan lakukan pengisian recording, tanggal masuk, tanggal tetas, berat DOC, strain, kemudian DOC diberi air gula sebanyak 2-3% selama 2-3 jam, kemudian dilakukan pemberian pakan.
3.4.4. Vaksinasi
Vaksinasi dilakukan tiga kali dalam satu periode pemeliharaan dengan menggunakan vaksin ND dan IBD. Vaksin ND diberikan pada umur 4 hari melalui tetes mata, dan diulang kembali pada umur 21 hari. Kemudian vaksin IBD diberikan pada umur 14 hari melalui air minum.
3.5 Pengelolahan pakan
3.5.1 Frekuensi Pemberian Pakan
                   Pemberian pakan dalam minggu pertama dilakukan sebanyak empat kali dan pada minggu kedua frekuensi pemberian pakan dapat dikurangi. Pada minggu ketiga hingga panen pemberian pakan dapan dilakukan dua kali yaitu pagi dan sore.

3.5.2 Air Minum
                  Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum dalam artian slalu tersedia agar  tidak terjadi kekurangan air minum. Dan pemberian ekstrak daun beluntas dengan perlakuan 10% dari air minum.
        Tabel jumlah kebutuhan air minum ayam broiler umur 1- 4 minggu
Minggu
Kebutuhan air minum ml/ekor
1
225
2
480
3
725
4
1000
jumlah
2430
       Sumber : NRC (1994)
3.6  Parameter yang Diukur
3.6.1 Konsumsi pakan (gram/ekor/hari)
Perhitungan konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh Broiler dalam masa pemeliharaan dengan menghitung jumlah pemberian pakan dikurangi sisa pakan. Perhitungan konsumsi pakan dilakukan setiap hari.
3.6.2 Konsumsi air minum (ml/ekor/hari)
         Perhitungan konsumsi air minum adalah jumlah air minum yang di konsumsi oleh broiler dalam masa pemeliharaan dengan menghitung jumlah pemberian air minum dikurangi sisa air minum. Perhitungan konsumsi air minum dilakukan setiap hari
3.6.3 Mortalitas (%)
Mortalitas (angka kematian) dihitung dengan cara jumlah ayam yang mati dikalikan dengan 100% kemudian dibagi dengan jumlah awal ayam hidup. Perhitungan dilakukan setiap minggu sekali dan pada akhir pemeliharaan.

3.6.4 Pertambahan barat badan (gram/ekor)
Perhitungan pertambahan berat badan yaitu berat badan dikurangi berat badan sebelumnya. Perhitungan dilakukan setiap seminggu sekali.
3.6.5 Konversi pakan
Menghitung konversi pakan (FCR) yaitu konsumsi pakan dibagi pertambahan berat badan (PBB) guna mengetahui tingkat efisiensi pakan
3.6.6 Analisa usaha
a.   Pendapatan               : Total penerimaan dalam satu periode pemeliharaan
b.  Untung/ rugi              : Total pendapatan dikurangi total pengeluaran
c.   BEP unit                    : Total biaya dibagi harga per ekor
d.  BEP harga                 : Total biaya dibagi total produksi
e.   R/C                            : Total pendapatan dibagi total pengeluaran










3.7 Analisa Usaha
3.7.1 Asumsi
1.      DOC dengan jumlah 200 ekor dan Mortalitas 3%.
2.      Periode pemeliharaan 35 hari.
3.6.2  Biaya operasional pemeliharaan
No
Keterangan
Satuan
Harga
Jumlah
Biayatetap
1
Sewa kandang dan peralatan
1 periode
Rp. 120.000
Rp.    120.000
2
Listrik dan air
2 bulan
Rp. 30.000
Rp.      60.000
3
Alat penumbuk
2
Rp. 20.000
Rp.      40.000
4
Ember
2
Rp. 20.000
Rp.      40.000
5
Pisau
2
Rp. 10.000
Rp.      20.000
Total biayatetap
Rp.    280.000
Biayatidaktetap / variable
1
Pembelian DOC
200
Rp. 4.000
Rp.       800.000
2
Pakan
0,174kgx200x35hr
Rp. 4.681
Rp.    3.276.700
4
vaksin

Rp. 100.000
Rp.       100.000
5
Obat dan disinfektan

Rp. 100.000
Rp.       100.000
6
Kapur

Rp. 20.000
Rp.        20.000
7
Tenaga kerja
1 orang
Rp. 500.000
Rp.      500.000
8
Sekam

Rp. 20.000
Rp.        20.000
9
Daun Beluntas
25 Kg
Rp. 2.000
Rp.      50.000
Total biayatidaktetap
Rp.   4.866.700
Total Pengeluaran
Rp.  5.146.700




3.4.1        Penerimaan
No
Keterangan
Satuan
Hargasatuan
Jumlah
Penerimaan
1
PenjualanAyam
194 ekor
Rp. 30.0000
Rp.    5.820.000
2
Penjualankotoran

Rp. 20.000
Rp.         20.000
Total Penerimaan
Rp.    5.840.000

3.4.2   Keuntungan
              Keuntungan       = total penerimaan – total seluruh biaya
                                         = Rp. 5.840.000 – Rp. 5.146.700
                                         = Rp. 693.300

3.4.3        Analisa kelayakan usaha
ü  BEP Volume produksi            =      Total biaya   .
                                                                 Harga satuan produksi
                                                            =   Rp. 5.146.700                                                                                                 Rp. 30.000
            =      172 ekor
Jadi titik impas akan di capai apabila dalam usaha pemeliharaan broiler ini memperoleh produksi sebanyak 172 ekor dengan harga jual Rp. 30.000

ü  BEP harga produksi     =  Total biaya  .
                                                     Total produksi
                                                 = Rp. 5.146.700
                                                                     194 ekor

                                                             = Rp 26.529
Jadi analisis titik impas akan di capai apabila dalam usaha broiler ini memperoleh produksi sebanyak 194 ekor dengan harga jual Rp. 26.529


ü  R/C Ratio                      =  Total Penerimaan
                                                                   Total pengeluaran
                                                = Rp 5.840.000
                                                Rp. 5.146.700
                                                                 =1.13
Jadi usaha ini layak diusahakan karena R/C  rationya >1 yaitu: 1.13




DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R.1980. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta .
Anggorodi, R.1995. Nutrisi Aneka Ternak. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Asiamaya. 2003. Beluntas. http :// www. Asiamaya.com/jamu/isi/beluntas plucheaindica less. Htm  ( 29 september 2012)
Atmomarsono, U. 2004. Upaya Menghasilkan Daging Broiler Aman dan Sehat.Pidato Pengukuhan, diucapkan pada Upacara Peresmian PenerimaanJ abatan Guru Besar dalam IlmuTernak Unggas pada Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang 6 Oktober 2004.
Fadilah.2005. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Kartasudjana, R dan Edjeng S. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya.Jakarta.
Muhlisah, F. 1999. Tanaman Obat Keluarga. Penebar Swadaya, Jakarta.
Murtidjo, B. A. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
NRC.1994. Nutrient Requirement of Poultry. Ninth Revised Edition. National Academy Press. Washington DC.
Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M. 1994. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M. 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Kanisius.Yogyakarta
Rusiana dan Iswarawanti. 2003. 85% Daging Broiler Mengandung antibiotic. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1073455521,18343,
Sastroamidjojo, S. 1977. Obat asli Indonesia. Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.
Sugiarti, T., Suharsono U.D. Rusdi. 1981. Pengaruh Cekaman Panas Terhadap Pertumbuhan dan Efesiensi Penggunaan Makanan pada Ayam Bedaging. Lem LPP 1: 9-11.
Scott. M.L., M. C. Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrion of Chiken. 3nd Edition. M.L. Scott and Associates, Ithaca. New York.
Tampubulon, O.T. 1995. Tumbuhan Obat. Penerbit Bharatara, Jakarta.
Tillman, A.D, H. Tartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Perwirokusumo, dan Slebdokusumo. 1991. Ilmu makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Wahju.1988. Ilmu Nutrisi Ternak. Gadjamadah University Press. Yogyakarta.
Wahju. J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Wasito dan Rohaeni, E.S. 1994. Beternak itik Alabio. Kanisius. Yogyakarta.






           
 

0 komentar:

Post a Comment